Rombongan Suporter Timnas Indonesia Urunan Buat Sumbang Keluarga Catur

Rombongan Suporter Timnas Indonesia Urunan Buat Sumbang Keluarga Catur
Rombongan Suporter Timnas Indonesia Urunan Buat Sumbang Keluarga Catur

Sejumlah suporter timnas Indonesia tergugah untuk memberikan santunan kepada keluarga Mendiang Catur Juliantono. Kelompok suporter yang menggelar aksi solidaritas tersebut menamakan dirinya #SedulurCatur.

Sebelumnya, Almarhum (Alm) Catur tewas saat menonton laga persahabatan yang mempertemukan timnas Indonesia melawan timnas Fiji pekan lalu (Sabtu, 2 / 9 / 2017) di Stadion Patriot Bekasi. Alm pada saat itu yang sedang berada di tribun Selatan, terkena ledakan petasan yang dilemparkan oleh salah seorang suporter timnas Indonesia lainnya. Sempat dilarikan ke rumah sakit, namun Alm Catur harus menghembuskan nafas terakhirnya di Ambulans.

#SedulurCatur muncul diawali dengan chating-chatting -an para suporter di grup Whatsapp yang bernama Forum Suporter Indonesia. Melihat animo yang begitu tinggi untuk meringankan beban keluarga Alm Catur, salah satu member bernama Andi Windo pun berinisiatif untuk mengajak member-member yang lain untuk berkumpul dalam 1 wadah. Yakni, forum #SedulurCatur tersebut.

Berdasarkan informasi yang beredar di media, Alm Catur memang meninggalkan seorang istri dengan anak lelakinya yang baru saja berusia 3 tahun. Alhasil, rasa iba terhadap keluarga Almarhum pun timbul.

Selain forum yang muncul dari grup Whatsapp, ternyata juga muncul aksi solidaritas serupa melalui akun Twitter @infosuporter dan akun Instagram bernama @faithfootballid.

Aksi solidaritas pertama yang #SedulurCatur lakukan adalah menjual jersey timnas Indonesia Andik Vermansah yang bertorehkan tandatangan Andik sendiri. Jersey yang dimiliki oleh salah satu anggota forum tersebut, akhirnya berhasil dilepas dengan harga 1 jt Rupiah. Dimana 100 persen hasil penjualannya, disumbangkan semua untuk keluarga Alm Catur. Selain itu, beberapa suporter lainnya juga menjual pernak-pernik sepakbola Indonesia untuk terus menggalang dana. Plus sejumlah uang tunai yang dikumpulkan melalui urunan sebagian anggota suporter lainnya.

Nantinya, penggalangan dana yang akan ditutup pada hari Kamis (7 / 9 / 2017) tersebut akan langsung diserahkan kepada keluarga Alm yang berdomisili di daerah Duren Sawit, Jakarta Timur.

Sejauh ini, #SedulurCatur mengatakan bahwa dana santunan yang sudah terkumpul adalah sebanyak 6,269,475 Rupiah. Diinformasikan juga oleh forum tersebut, bahwa bagi masyarakat luas yang juga ingin memberikan sumbangan kepada keluarga Alm dapat mengontak akun Arista Budiyono melalui akun @infosuporter.

Tampil Inkonsisten, Ozil Mendingan Dijual Saja

Tampil Inkonsisten, Ozil Mendingan Dijual Saja
Tampil Inkonsisten, Ozil Mendingan Dijual Saja

Itulah komentar salah satu mantan penggawa Arsenal FC, Emmanuel Petit yang mengriktik penampilan Mesut Ozil yang kerap naik turun belakangan ini.

Sejauh ini, Arsenal sudah 2 kali takluk dari 3 laga yang dilakoni di Liga Premier musim 2017 – 2018 kala mengikutsertakan gelandang asal Jerman itu. Salah satunya adalah ketika kalah telak 0 – 4 dari Liverpool. Dari ketiga laga tersebut, statistik gol dan assist dari Ozil pun tercatat masih nihil.

Berbeda dengan performanya di musim lalu, Ozil berhasil mempersembahkan 8 gol serta 10 assist buat The Gunners di kancah Liga Premier. Namun kini, Ozil seperti kehilangan geregetnya di klub. Ini yang dirasakan betul oleh Petit, sehingga memancing dirinya untuk melontrakan sebuah kritik pedas terhadap Ozil. Masalahnya yang paling membuat geram Petit adalah Ozil yang terlihat lebih ogah-ogahan pada musim ini.

“Ya kalau sudah tidak mau membela klubnya lagi, lebih baik dijual saja”, tegas Petit yang menyarankan bekas klubnya untuk segera melepas Ozil.

“Kalau soal belum bikin gol atau assist, rasanya wajarlah bagi seorang pemain. Setiap pemain kan ada faktor fluktuatifnya. Tapi masalahnya, saya tidak melihat semangat untuk memperjuangkan klub lagi pada diri Ozil. Dirinya betul-betul berbeda dibanding dengan musim lalu”, tambah mantan gelandang 46 tahun yang juga membela timnas Prancis itu kepada wartawan SFR Sport dan London Evening Standard.

“Jika Arsene (Wenger) tetap mempertahankannya (Ozil) di klub, itu bisa berbahaya. Attitude buruknya itu bisa menjalar ke pemain-pemain yang lain”.

“Kalau saya jadi Arsene, saya dengan tegas akan langsung bertanya ke Ozil begini. ‘Kamu masih mau main tidak, kalau tidak pintu keluar terbuka lebar disana. Dan pastikan kamu menutupnya dan jangan pernah kembali lagi kesini'”, papar Petit lagi.

Kontrak kerja Ozil sendiri di Stadium Emirates bakal tuntas di akhir musim panas 2018. Hingga detik ini, belum ada omongan dari Meriam London untuk menyodorkan kontrak baru bagi pesepakbola berumur 28 tahun itu. Mungkinkah hal itu yang membuat Ozil galau dan lesu di lapangan, kala bermain untuk Arsenal?

Sukses Gilas Kamboja, Indonesia Berhak Masuk Semi Final SEA Games ’17

Sukses Gilas Kamboja, Indonesi Berhak Masuk Semi Final SEA Games '17
Sukses Gilas Kamboja, Indonesi Berhak Masuk Semi Final SEA Games ’17

Lantaran berhasil menggilas rata Kamboja 2 – 0 sore tadi (Kamis, 24 / 8 / 2017) di Stadion Shah Alam Malaysia, timnas Indonesia pun berhak melangkah ke fase semi final SEA Games 2017.

Saat berlaga, Kamboja benar-benar dibuat mati kutu oleh Garuda. Sepanjang pertandingan, Kamboja hanya mampu bertahan dan tidak mampu membobol pertahanan Indonesia. Kendati begitu, Indonesia sempat mengalami kesusahan bikin gol akibat para pemain Kamboja yang lebih banyak berkerumun di barisan belakang. Kegagalan demi kegagalan dalam menjebol gawang Kamboja, selalu dialami oleh squaq besutan Luis Milla itu. Paling maksimal, bola yang digiring Tim Merah Putih selalu mentah di area kotak putih Kamboja saja. Padahal pendekatan ke mistar gawang lawan, sudah dicoba Indonesia dari berbagai sudut.

Indonesia baru bisa memecah kebuntuan jelang berakhirnya babak I. Pasalnya, Choun Pisa yang mengkoleksi kartu kuning keduanya harus diusir keluar lapangan oleh wasit yang bertugas. Hanya bermodalkan 10 pemain, menjadi peluang besar bagi Indonesia untuk merangsek masuk ke lini bertahan Kamboja. Walau skor tetap berbentuk kacamata, hingga sesi turun minum.

Tidak mau membuang-buang kesempatan yang ada, Indonesia langsung menekan lebih keras lagi sejak awal babak ke 2. Hingga pada akhirnya 2 pemain serep, Ezra Walian serta Febri Hariyadi sukses menceplos masing-masing 1 gol buat Indonesia. Hingga wasit meniupkan pluit tanda laga usai, Indonesia mampu mempertahankan keunggulan 2  – 0 -nya atas Kamboja.

Berkat angka penuh yang diraup barusan, Indonesia pun berhasil masuk ke putaran semi final dengan menyandang status sebagai timnas runnner up di grup B SEA Games ’17. Kedepan, Evan Dimas cs itu bakal dihadapkan dengan Malaysia yang saat ini menjadi juara di grup A.

Disisi lain, timnas Thailand juga berhasil mengkoleksi angka penuh seperti timnas Indonesia. Tim Gajah Putih berhasil merobohkan Vietnam dengan skor 3 – 0, sekaligus berhasil keluar sebagai juara di grup B. Kedepan, mereka akan dihadapkan dengan Myanmar yang pada saat ini menyandang predikat runner up di grup A.

Dinyatakan Lolos ke Piala Dunia 2018, Timnas Iran Disambut Meriah Warganya

Dinyatakan Lolos ke Piala Dunia 2018, Timnas Iran Disambut Meriah Warganya
Dinyatakan Lolos ke Piala Dunia 2018, Timnas Iran Disambut Meriah Warganya

Keberhasilan timnas Iran menghajar telak timnas Uzbekistan 2 – 0 pada laga lanjutan Kualifikasi Piala Dunia 2018 untuk zona Asia, menjadi karcis masuk mereka untuk berpartisipasi di Rusia. Tidak hanya itu, tim Melli juga menjadi kontingen Asia pertama yang sudah dipastikan berlaga di turnamen Piala Dunia 2018 Rusia.

Saat menyambut tim tamu di Tehran, Sardar Azmoun serta Mehdi Taremi menjadi pahlawan yang berhasil mengoyak jala Uzbekistan. Dengan tambahan 3 poin yang diraih dari kemenangan tersebut, timnas besutan Carlos Queiroz itu juga berhasil mengukuhkan posisi mereka sebagai raja klasemen di Grup A. Dimana, mereka membalap Korea Selatan yang selalu membayangi mereka di ranking 2 dengan saldo 7 poin lebih sedikit. Hebatnya lagi, Iran belum pernah dibobol sama sekali dari 8 kesempatan berlaga yang diikutinya selama fase kualifikasi.

Dengan begitu, Piala Dunia tahun depan yang dilangsungkan di Negeri Tirai Besi menjadi kompetisi Piala Dunia timnas Iran yang kelima kalinya.

Atas apa yang telah dicapai oleh timnasnya, seluruh warga Iran pun menyambut kabar gembira tersebut dengan penuh sukacita.

“Kami bangga dengan kalian (para pemain timnas Iran). Selamat atas keberhasilannya masuk ke Piala Dunia 2018 Rusia. Kami semua tidak akan pernah putus memberikan dukungan”, ujar Hassan Rouhani, Presiden Iran yang dicuitkan melalui akun Twitter pribadinya.

Disisi lain, ribuan pencinta sepakbola di Tehran pun meramaikan suasana gembira dengan turun ke jalanan. Mereka meneriakkan yel yel timnas mereka sambil menari-nari. Sebagian ada pula yang beramai-ramai membunyikan klakson mobil. Semua warga pun pada akhirnya berbondong-bondong menonton aksi sorak sorai itu, layaknya tengah menyaksikan sebuah acara festival karnaval.

Sejatinya, timnas penyabet 3 trofi Piala Asia itu masih menyisakan 2 laga hingga fase kualifikasi Piala Dunia 2018 tuntas. Yakni, laga kontra Korea Selatan dan juga Suriah. Namun apapun hasil dari kedua laga lanjutan tersebut, Iran tetap sudah dinyatakan lolos masuk ke event sepakbola akbar 4 tahunan itu.

“Apapun hasilnya pada 2 laga sisa nanti, tidak akan ada yang berpengaruh pada langkah kami ke Piala Dunia Rusia tahun depan. Kami sudah resmi lolos dengan pencapaian angka kami selama mengarungi babak kualifikasi”, papar kapten tim, Ashkan Dejagah.

Angkut Morata, Chelsea Dinilai Buat Keputusan Tepat

Angkut Morata, Chelsea Dinilai Buat Keputusan Tepat
Angkut Morata, Chelsea Dinilai Buat Keputusan Tepat

Pernyataan tersebut diungkap oleh salah satu eks penggawa Chelsea, Dennis Wise. Wise menilai kalau Alvaro Morata bakal membawa Chelsea meraih sukses yang lebih di musim 2017 – 2018 mendatang.

Sebelumnya, The Blues meminang Morata dengan uang mahar senilai 80 jt Euro atau sebanding dengan 1,2 T Rupiah. Dengan uang sebesar itu, Chelsea mengikatnya dengan kontrak berdurasi 5 musim.

Tujuan Si Biru mendatangkan pemain kelahiran Spanyol berumur 24 tahun itu, memang tak terlepas dari kebutuhan Chelsea dalam mempertajam lini depannya. Seiring dengan nama Diego Costa yang sudah dicoret dari plan Antonio Conte pada kompetisi musim sekarang.

Wise yang dulunya mengabdi di London Barat selama 11 tahun sejak tahun 1990 hingga 2001 itu membenarkan, kalau persaingan di Liga Premier 2017 – 2018 bakal semakin mengerikan.

“Bursa transfer musim panas tahun ini belum ditutup. Tentu saja, kejutan pemain baru lainnya di klub-klub Liga Premier masih bakal bermunculan. Namun begitu, mendatangkan Morata merupakan keputusan Chelsea yang sangat bijak. Chelsea saat ini butuh mesin gol untuk tetap mempertahankan trek dalam meraih piala”, komen mantan bek berusia 50 tahun itu.

“Chelsea memang harus lebih mempertajam daya rusak squadnya. Lihat saja Manchester Unites (MU), Arsenal dan Manchester City yang jor-joran menggelontorkan uang, demi mendatangkan pemain-pemain yang menurut mereka oke punya”, imbuh wise lagi.

Laga kompetitif Chelsea dibuka dengan menunduk dibawah kaki Arsenal, lewat sesi adu tos-tosan di ajang Community Shield. Selanjutnya, sang jawara Liga Premier musim lalu itu bakal dihampiri Burnley pada akhir pekan ini (Sabtu, 12 / 8 / 2017).

Imam Nahrawi Ngamuk, Semua Suporter Disuruh Datang ke Kantornya

Imam Nahrawi Ngamuk, Semua Suporter Disuruh Datang ke Kantornya
Imam Nahrawi Ngamuk, Semua Suporter Disuruh Datang ke Kantornya

Keributan antar suporter Persija Jakarta dan Persib Bandung beberapa pekan lalu saat dilangsungkannya laga lanjutan Liga 1, harus menumbalkan 1 korban jiwa, Ricko Andrean. Kala itu, Ricko menjadi korban amuk suporter The Viking yang salah sasaran. Disangka menjadi salah satu anggota Jakmania, Ricko habis dipukuli oleh sesama anggota The Viking lainnya. Setelah tak sadarkan diri selama 2 hari, Ricko pun akhirnya menghadap Sang Kholik.

Mendengar kejadian yang tidak enak ditelinga tersebut, Menpora Imam Nahrawi pun langsung naik pitam. Berniat untuk memberikan arahan kepada para suporter agar kedepan tidak terjadi lagi kejadian buruk yang serupa, Imam berniat mengumpulkan semua suporter dari seluruh Indonesia. Pernyataan ini disampaikan Imam saat menggelar konferensi persi pekan lalu (Jumat, 28 / 7 / 2017) di Media Center Kemenpora Senayan Jakarta Selatan. Berdasarkan pernyataan yang dilontarkannya, seluruh suporter yang mendukung klub yang menjadi peserta Liga 1 dan juga Liga 2 bakal diundang ke kantornya pekan depan. Undangan ini dirasa tepat tujuannya untuk menampung seluruh keluh kesah para suporter dan mencari jalan keluarnya secara bersama-sama.

“Harapan saya yang pasti adalah kejadian buruk yang menimpa sahabat kita, Ricko Andrean harus menjadi yang terakhir kalinya. Sepakbola itu kan olahraga yang harusnya dijalankan dengan jiwa sportif yang tinggi. Semua emosi ya biar diwakilkan oleh penampilan pemain-pemain klub kita di lapangan saja. Diluar lapangan, kita semua sahabat dan sama-sama pencinta sepakbola”, ujar Imam saat berbicara pada acara jumpa pers tersebut.

“Malu lah, negara kita dilihat negara lain sepakbolanya carut marut begitu”, terusnya lagi.

“Maka dari itu, saya putuskan untuk mengumpulkan seluruh suporter dari klub Liga 1 dan Liga 2. Saya akan berdiskusi dengan mereka untuk menampung semua uneg-uneg dan saran. Biar setelahnya, tidak ada lagi gontok-gontokan kayak gini”, ujar Imam yang pada saat itu juga didampigi oleh sekretarisnya, Gatot S Dewa Broto dan Imam Gunawan.

“Tidak hanya suporter saja yang saya undang, tapi pihak kepolisian dan PSSI juga akan saya undang. Biar kita semua bisa keluar dengan komitmen yang sudah disepakati bersama-sama”.

“Saya jadwalkan minggu depan, lah. Nanti akan saya konfirmasi lagi kapan tepatnya”, tutup Imam yang juga tidak lupa mengucapkan rasa duka citanya kepada keluarga mendiang Ricko.

Supardi Naik Haji, Persib Naik Stres

Supardi Naik Haji, Persib Naik Stres
Supardi Naik Haji, Persib Naik Stres

Ditinggal Supardi, Persib Bandung sedang stres berat. Gelandang bertahan berumur 34 tahun itu memang harus absen akhir pekan ini (Sabtu, 29 / 7 / 2017), saat Maung Bandung melawat ke markas Perseru Serui di Stadion Marora Papua untuk melakoni laga lanjutan Liga 1 Gojek Traveloka.

Selama musim ini, klub besutan Herrie Setyawan itu memang acapkali mengandalkan tenaga Supardsi di lini bertahan mereka. Namun saat ini Supardi tidak bisa menemani rekan-rekannya merumput, lantaran tengah bertolak ke Mekkah untuk menunaikan ibadah Haji.

“Ga ada Supardi stres juga saya. Soalnya dia yang paling besar andilnya dalam memperkuat barisan pertahanan kami. Cuma kami ya harus mengerti, SUpardi saat ini sedang menunaikan ibadah Haji -nya”, keluh Herrie.

“Satu-satunya jalan, Ahmad Jufriyanto, Vladimir Vujovic dan juga Tony Sucipto harus bekerja ekstra keras tanpa Supardi. Cuma itu jarapannya nanti pas melawan Perseru Sabtu besok”, imbuh Herrie lagi.

Selama berseragamkan Persib, Supardi memang kerap menjadi sosok pemain yang disegani para rekan-rekannya. Pasalnya, Supardi dianggap pemain senior yang dituakan di Persib. Selain punya skill dan pengalaman yang impresif, Supardi selalu bisa meneduhkan segala ketegangan antar pemain yang terjadi di klubnya.

Sejauh ini, Persib tengah bercokol di ranking 14 klasemen sementara Liga 1 dengan mengkoleksi 21 poin. Masih memiliki 10 poin lebih banyak dari calon lawannya, Perseru yang kini mengekor mereka di posisi 16.

Ezra Walian Mau Pindah ke Inggris

Ezra Walian Mau Pindah ke Inggris
Ezra Walian Mau Pindah ke Inggris

Salah satu penggawa timnas Indonesia, Ezra Walian, kini sedang berada di titik perpindahan ke Liga Inggris. Saat ini santer diberitakan, kalau jong Belanda itu sedang menantikan sodoran kontrak secara resmi dari Bolton Wanderers. Usai pekan lalu melakoni trial bersama klub asal Inggris tersebut.

Saat ini Ezra memang sedang memiliki status pemain tanpa klub, setelah Azax Amsterdam emoh memperpanjang kontrak kerjanya yang habis pada bulan Juni 2017. Untuk mencari pengalaman dan tantangan baru, bomber 19 tahun itu pun berniat untuk terbang ke Inggris.

Kabarnya, Bolton puas dengan performa Ezra saat melakukan trial bersama klub di League One. Ezra dinilai mampu bersaing dengan pemain-pemain berpotensi lainnya di ajang kompetisi tersebut.

“Pas trial sih, Bolton bilang puas dengan Ezra. Mudah-mudahan bisa lolos kualifikasi dan langsung dikontrak”, ungkap agensi Ezra, Wide Putra.

Sembari menunggu hasil keputusan Bolton, Ezra saat ini tengah sibuk mengembalikan kondisi fisiknya lagi. Setelah bulan lalu sempat jatuh sakit ynag disebabkan oleh bakteri salmonella.

“Ya selama masih belum bermain secara resmi, dia (Ezra) kerjanya latihan sendiri terus. Biar ga kendor, kalau kata dia”, ujar Wide lagi.

Kabar terakhir, Ezra bakal kembali bergabung dengan timnas Garuda untuk menjalani latihan bersama pada tanggal 5 Agustus mendatang.

Stop Beli Medioker Player, Inter

Stop Beli Medioker Player, Inter
Stop Beli Medioker Player, Inter

Seiring dengan para rivalnya di Seri A yang greges di bursa transfer, Inter Milan nampaknya juga ikut jor-joran menggelontorkan uang buat belanja pemain. Terakhir, Inter baru saja mendatangkan pemain barunya yang ke 4, Christian Vieri. Namun begitu, Vieri diniai fans sebagai pemain yang masih jauh dari kata oke. Maka dari itu, fans pun memperingatkan klub kesayangannya itu untuk berhenti membelanjakan uangnya untuk pemain-pemian medioker.

Sebelumnya, Internazionale sudah memboyong Daniele Padelli yang sebelumnya adalah kiper di Torino, lalu Skriniar eks bek Sampdoria, dan juga Borja Valero yang dulunya bekas gelandang Fiorentina. Dari keempat pemain baru yang dipersiapkan Inter buat musim depan, cuma nama Valero lah yang dilihat fans sebagai pemain yang masuk kategori oke. Walaupun, usia winger asli Spanyol tersebut sudah termasuk memasuki usia uzur sebagai atlit. Yakni, 32 tahun.

Sementara cerita dicoretnya nama Padelli dari jajaran pemain kunci Torino saja, dipicu oleh ketidakmampuannya untuk bersaing dengan kiper baru yang baru saja direkrut I Granata, Joe Hart. Kendati, Padellin bisa diboyong Inter dengan cuma-cuma usai kontraknya di klub sebelumnya tidak diperpanjang lagi. Selain itu, sebagai bek, Skriniar juga dinilai sebagai pemain yang tampil pas-pasan pada musim lalu bersama klubnya, Sampdoria.

Ini justru memperlihatkan letoinya semangat Inter di bursa transfer musim panas tahun ini (2017). Berbeda dengan seterunya, AC Milan yang mengeluarkan banyak uang tepat guna. Sejauh ini, Rossoneri sudah menciduk Mateo Musacchio, Andre Silva, Ricardo Rodriguez, Andrea Conti, Hakan Calhanoglu, Franck Kessie, Lucas Biglia, Fabio Borini dan pemain yang paling baru saja direkrut, Leonardo Bonucci. Dimana, 9 nama tersebut punya CV yang bagus di klub yang mereka sebelum berseragam belang merah hitam.

Kelesuan Inter juga dikomentari oleh eks bomber timnas Italia yang dulu juga pernah berseragam belang biru hitam dan belang merah hitam, Vieri.

“Kalau mau jadi juara, ya Inter harus juga merekrut pemain yang berpotensi untuk juara. Jangan asal angkut saja. Itu kan cuma buang-buang uang, waktu dan tenaga saja jadinya”, tegasnya saat disambangi Sky Sport Italia.

“Stop membelanjakan uang Anda untuk para medioker player”, lanjutnya lagi menasehati bekas klubnya dulu.

“Kalau saya boleh saran, ada 2 kandidat yang sebaiknya cepat diincar Inter. Toh, saat ini Inter sedang butuh striker kan?”

“Pertama ada Nikola Kalinic dari Fiorentina. Ia terkenal dengan kontrol bolanya yang sulit dilepas oleh lawan. Sangat bagus untuk merangsek dan mendekati gawang lawan. Lalu berikutnya ada juga Andrea Belotti yang bermain di Torino. Belotti punya fisik yang kuat serta napas yang panjang, sehingga menjadi pemain yang sulit dihadang saat menerobos masuk ke pertahanan lawan. Lagipula, Belotti saat ini sedang lapar-laparnya untuk menjadi juara”, papar Vieri merekomendasikan pemain yang dirasanya bagus buat Inter.

Revolusi Piala Dunia Dimulai Tahun 1990

Revolusi Piala Dunia Dimulai Tahun 1990
Revolusi Piala Dunia Dimulai Tahun 1990

Awal terjadinya revolusi Piala Dunia

Piala Dunia tahun 1990 bisa dikatakan sebagai turnamen Piala Dunia yang paling buruk dalam catatan sejarah. Namun begitu, buruknya event 4 tahunan itu justru mendorong sebuah revolusi tersendiri di kancah sepakbola.

Popularitas Piala Dunia memang selalu mencuri perhatian seluruh masyarakat di seluruh dunia. Bahkan event besar seperti Olimpiade yang mengikutsertakan 200 kontingen dari seluruh dunia pun, masih kalah gaungnya dibanding dengan Piala Dunia.

Kendati begitu, Piala Dunia pun wajar seperti hal lainnya. Yakni, punya atau pernah mengalami masa-masa terbaik maupun saat-saat terburuk dalam perjalanannya. Setiap 4 tahun sekali, selalu muncul nama-nama yang dijadikan sebagai idola baru. Disaat yang bersamaan, juga acapkali muncul insiden-insiden yang kurang sedap didengar. Seperti halnya yang terjadi pada babak final Piala Dunia tahun 2006. Kala itu, Zinedine Zidane menanduk Marco Materazzi yang bermuara pada sanksi kartu merah. Aksi pelanggaran yang dilakukan oleh gelandang serang Timnas Ayam Jantan itu pun, sekaligus menjadi sebuah sinyal. Bahwa karir sepakbolanya sedang menuju titik akhir.

Selain insiden yang terjadi pada tahun 2006, ada pula hal yang menjadi drama pada tahun 1990. Dimana Piala Dunia yang digelar di Italia pada tahun 1990 itu, tercatat sebagai ajang Piala Dunia terburuk selama ini.

Pada tahun 1990, rekor gol di sepanjang turnamen Piala Dunia berjalan hanya sebanyak 115 gol saja. Atau bila diambil angka gol per pertandingan, menjadi 2,21 gol per laga saja. Tentu saja, angka ini menjadi catatan angka paling rendah sepanjang sejarah turnamen Piala Dunia. Mempertontonkan laga di putaran grup yang sangat miskin gol dan 2 laga semi final yang selalu berujung pada sesi adu penalti, memberikan indikasi bahwa hampir semua kontingen tampil sangat buruk pada masa itu. Malahan, keparahannya justru semakin terlihat jelas pada putaran final yang mempertemukan timnas Jerman Barat (yang saat ini menjadi Jerman) dengan timnas Argentina.

Cerita dibalik buruknya partai final Piala Dunia 1990

Revolusi Piala Dunia Dimulai Tahun 1990_2
Revolusi Piala Dunia Dimulai Tahun 1990_2

Seperti yang sudah diketahui oleh para pencinta sepakbola di dunia, persaingan panjang antara Jerman dengan Argentina memang sudah terjadi sejak lama. Tak heran kalau partai yang mempertemukan 2 seteru tersebut, tadinya menjadi tontonan yang amat ditunggu-tunggu oleh masyarakat pencinta sepakbola di seluruh dunia. Namun sayangnya, kenyataan harus berkata lain. Duel tersebut berada jauh diluar ekspektasi para penonton sebelumnya.

Laga puncak tersebut, pada akhirnya dimenangkan secara tipis 1 – 0 oleh Jerman. Tadinya, penonton mengharap akan ada hujan gol yang membanjiri laga tersebut. Tapi justru yang ditampilkan malah hujan pelanggaran dan sanksi kartu. Argentina pun benar-benar memperlihatkan penampilan terburuknya kala itu, yakni hanya mampu melesatkan 1 shot yang itu pun tidak dinilai sebagai tembakan tertarget. Sementara lawannya, Jerman melakukan attempt sebanyak 23 kali, dengan 16 shot diantaranya yang on target.

Gol baru pecah, saat laga memasuki menit ke 85. Saat tu, Andreas Brehme berhasil menyarangkan si kulit bundar dari titik putih. Kendati begitu, gol tersebut lahir dari pelanggaran yang dilakukan oleh Roberto Sensini terhadap Rudi Voller.

Pada duel final tersebut, Argentina sampai harus mengorbankan 2 pemainnya. Dalam perjalanan Piala Dunia selama ini, Pedro Monzon menjadi pesepakbola pertama yang ditodong kartu merah di babak final. Selain itu, Argentina juga menjadi negara pertama yang absen bikin gol di fase final Piala Dunia selama ini.

Drama ternyata tidak berakhir sampai laga Jerman vs Argentina mencapai menit puncaknya yang ke 120. Selepas bertanding, Edgardo Codesal, selaku wasit asal Meksiko yang memimpin pertandingan kala itu langsung dihadang para pemain Argentina. Pasalnya, Codesal dianggap membantu Jerman untuk lolos sebagai penyabet trofi. Kemarahan mereka didasari oleh keputusan hadiah penalti yang diberikan untuk Jerman, pada menit ke 85. Ditengah amukan para pemain Argentina, toh wasit tetap kekeh untuk mengaminkan Jerman menjadi juara dunia yang ke-3 kalinya.

Franz Beckenbauer sontak menjadi satu-satunya tokoh yang dulunya sukses menjuarai Piala Dunia saat masih menjadi pemain timnas Jerman, dan sukses membawa timnya menjadi juara saat menjabat sebagai pelatih Timnas Panser.

Usai membawa timnya menggasak piala, Beckenbauer mengatakan bahwa Argentina tidak perlu marah atas kekalahan tersebut. Hal itu justru disebabkan oleh cara bermain mereka yang negatif dan kasar.

“Karena tidak mampu menyamakan dominasi kami sejak awal, cara bermain mereka (Argentina) mendadak jadi kasar sepanjang pertandingan. Untungnya kami tidak termakan emosi dan tetap bermain dengan sabar. Toh, akhirnya kesabaran tersebut membuahkan angka yang berujung pada kemenangan kami”, papar Beckenbauer saat disambangi oleh New York Times.

Hujan pelanggaran yang terjadi pada laga Jerman vs Argentina mengusik FIFA untuk meningkatkan kualitas pertandingan sepakbola

Menyaksikan polemik diving yang terjadi pada partai final Piala Dunia tahun 1990, mendorong FIFA untuk berbenah. Organisasi tertinggi sepakbola dunia tersebut memutuskan untuk meningkatkan standar pertandingan sepakbola, supaya menjadi lebih baik kedepannya. Salah satu kebijakan yang dikeluarkan adalah merubah poin kemenangan yang sebelumnya 2 poin menjadi 3 poin. Dasar perubahan ini dimaksud FIFA untuk meningkatkan motivasi tim yang bertanding untuk mengantongi ‘full poin’.

Selain soal poin, FIFA juga mengadakan peraturan ‘backpass’. Ini dimaksudkan untuk mencegah akal-akalan mengulur waktu selama bertanding. Sebelum peraturan ini diberlakukan, memang banyak tim peserta yang sengaja mengulur waktu dengan berlama-lama menguasai bola. Termasuk mengembalikan bola ke kiper dengan frekuensi yang relatif sering. Hal ‘stalling’ tersebut dilakukan mereka, lantaran mengalami kesulitan untuk merangsek ke sistem pertahanan lawan.

Dengan cara bermain seperti itu, tentu saja pertandingan sepakbola akan menjadi tontonan yang sangat membosankan dan mengecewakan. Sehingga tidak pantas dipertontonkan di ajang sepakbola paling akbar seperti Piala Dunia.

Cara kerja peraturan ‘backpass’ sendiri adalah melarang seorang pemain yang dengan sengaja mengembalikan bola ke kiper setelah melakukan tendangan gawang, untuk ditangkap lagi dengan tangan. Hal ini juga berlaku apabila pemain mendapat jatah lemparan kedalam dan tendangan bebas. Kiper setim dilarang menerimanya dengan menggunakan tangan.

Taktik kotor lainnya yang acapkali dilakukan oleh pemain adalah berpura-pura jatuh atau yang lebih populer dengan nama ‘diving’. Dimana cara bermain negatif ini paling banyak ditemukan pada saat Piala Dunia digelar tahun 1990. Kendati Jerman yang saat itu berhasil keluar sebagi juara, mereka dinilai sebagai tim yang paling sering menggunakan taktik ini. Taktik ini pula lah yang disinyalir berhasil mengusir keluar Pedro Monzon pada partai final. Sekaligus, membuahkan kado tendangan penalti yang menjadi penentu kemenangan Jerman kala itu.

Sesuai yang dimuat di Guardian, Klinsmann pada saat itu dengan sengaja melompat seperti atlit renang yang hendak menceburkan diri pertama kalinya ke kolam. Setelah itu, aksi pura-pura jatuh tadi dituntaskan dengan aksi pura-pura sakit. Padahal jegalan Monzon saat itu pun diragukan benar-benar menyentuh Klinsmann. Toh, taktik itu terbilang berhasil dan menyebabkan Monzon langsung dikartu merah oleh wasit.

Sampai saat ini, diperlukan kejelian wasit dalam memantau taktik ‘diving’. Lantaran, ini adalah taktik kotor yang paling sulit terlihat untuk mengakali kado tendangan bebas, tendangan penalti, sampai dengan sanksi kartu yang ditujukan kepada pemain lawan. Parahnya, banyak pula pelatih yang dengan sengaja melatih anak didiknya untuk melakukan ‘diving’ agar terlihat lebih riil dan tidak terkesan pura-pura oleh wasit.

Memang trik-trik kotor akan terus menjadi bayangan dari sportifitas permainan sepakbola. Misalkan saja, kiper yang dengan sengaja menendang kaki pemain lawan yang berada didekat mulut gawang, lalu melompat agar tidak terlihat telah menciderai pemain lawan. Ada pula yang sengaja mengganti pemain yang punya tenaga lebih fresh, pada menit-menit akhir pertandingan, dan lain sebagainya.

Walaupun demikian, Piala Dunia 1990 mengajarkan kita semua bahwa ujung dari sebuah pertandingan adalah siapa yang harus menang dan siapa yang harus kalah. Hanya saja, pada saat itu para pemain kebablasan mengaplikasikan trik-trik kotor mereka.

Hal terbaik yang bisa dilakukan oleh FIFA untuk memberikan solusi untuk hal ini adalah menentukan besar hukuman yang harus dijatuhkan kepada pemain yang dengan sengaja melakukan trik kotor. Seperti halnya, saat Luis Suarez mencokot Giorgio Chiellini pada ajang Piala Dunia 2014 lalu. Dimana pada akhirnya Suarez diskors dari pertandingan Piala Dunia untuk selama beberapa pertandingan.

Apapun itu, sepakbola telah membuktikan bahwa olahraga tersebut bukanlah sekedar permainan. Para pemain akan mempertaruhkan apa saja dengan segeap jiwa dan raga untuk menjadi pemenang, seperti layaknya pejuang yang hendak berangkat ke medan perang.