Mau Bikin Kejutan, Wayne Rooney Tak Bilang Keluarga Kalau Gabung di Klub Kampung Aslinya

Mau Bikin Kejutan, Wayne Rooney Tak Bilang Keluarga Kalau Gabung di Klub Kampung Aslinya
Mau Bikin Kejutan, Wayne Rooney Tak Bilang Keluarga Kalau Gabung di Klub Kampung Aslinya

Wayne Rooney Sempat Tak Bilang Keluarga Kalau Mau Pulang Kampung

Sejatinya, kepulangan Wayne Rooney ke klub di kampung aslinya, Everton sangat membuat keluarganya merasa bahagia. Kendati, eks kapten Manchester United (MU) itu sempat merahasiakan kepindahannya ke The Toffees kepada keluarganya.

Lahir di Liverpool, Rooney berserta keluarganya terkenal dekat sekali dengan Everton. Adapun, juru gedor berumur 31 tahun itu memulai perjalanan karirnya sebagai pemain pro di Everton sejak 15 tahun yang lalu (2002). Setelah masa kontraknya habis di Everton pada tahun 2004, Rooney pun ditarik SIr Alex Ferguson ke MU. Di Old Trafford, Rooney menjalani karir yang sangat panjang. Yakni mengabdi kepada Setan Merah, selama 13 musim. Hingga pada akhirnya ia harus pindah lagi ke klub lamanya pada musim panas tahun 2017 ini, dan meneken kontrak selama 2 tahun di Goodison Park.

Saat ditemui sejumlah rekan media di Inggris, Rooney pun dengan gamblang memaparkan alasannya. Yakni, mengapa ia memutuskan untuk tidak menyampaikan cerita dirinya yang pindah klub kepada anak, istri dan kerabatnya terlebih dahulu.

“Saya memang sempat merahasiakan berita transfer saya ke Everton. Saya tahu keluarga saya sangat senang sekali, jika saya bisa bermain disini. Maka dari itu, saya enggan memberitahu mereka selama proses transfernya belum selesai. Saya khawatir mereka akan merasa kecewa”, ujar Rooney kepada Mirror.

“Perasaan Kai (salah satu anak Rooney) lah yang paling saya jaga. Dia lah yang paling merindukan saya untuk pulang ke Everton. Saat ini begitu tahu ayahnya akan bermain di Goodison Park lagi, saya benar-benar melihat wajah Kai yang paling bahagia selama ini”, tuntasnya.

Luis Milla Cuma Angkut 23 Pemain Untuk Perang di Bangkok

Luis Milla Cuma Angkut 23 Pemain Untuk Perang di Bangkok
Luis Milla Cuma Angkut 23 Pemain Untuk Perang di Bangkok

Dalam rangka menghadapi Kualifikasi Piala Asia U-23, coach Luis Milla telah menetapkan hanya akan ada 23 nama yang sudah pasti akan diturunkan di Bangkok, Thailand.

Sebelumnya ada 25 nama yang dimasukkan Milla dalam training camp di Bali, namun hanya 23 pemain yang akan dimasukkannya kedalam squad timnas Garuda U-22. Sejauh ini, masih ada 24 pemain yang sementara masuk dalam daftar squad. Dimana pelatih asal Spanyol berumur 51 tahun itu bakal membuang 1 nama lagi, yang akan dicoretnya pada tanggal 18 Juli mendatang. Alias, pada H minus 1 sebelum bertanding di Negeri Gajah Putih.

“Sebetulnya saat ini kami punya 24 pemain, tapi ada 1 orang yang saya masih ragukan mau diikutsertakan atau tidak. Kami benar-benar ketat soal kualifikasi. Pemain yang dirasa tidak memenuhi standar squad, akan kami cut. Nanti, squad finalnya akan saya rilis 1 hari sebelum pertandingan. Pas Selasa,18 Juli minggu depan”, jelas Milla.

Skuad Garuda Muda sendiri sudah diberangkat pagi tadi (Selasa, 11 / 7 / 2017) WITA ke Bangkok dari Bali. Kualifikasi Piala Asia U-23 sendiri bakal dilangsungkan pada tanggal 19 hingga 23 Juli 2017. Berdasarkan undian, Tim Indonesia akan masuk di Grup H bersama-sama dengan tim tuan rumah, Malaysia, dan juga Mongolia.

Ke 24 nama yang telah dipilih Milla, usai menjalani Training camp di Bali adalah sebagai berikut.

Kurniawan Kartika Ajie dari Persiba Balikpapan, Moch Diky Indriyana dari Bali United dan Satria Tama dari Persegres Gresik akan berperan sebagai kiper.

Sedangkan lini belakang diisi oleh Gavin Kwan dan Hansamu Yama Pranata dari Barito Putera, lalu Bagas Adi dari Arema FC, Andy Setyo Nugroho dari PS TNI, Putu Gede Juni Antara dari Bhayangkara FC, Osvaldo Haay dari Persipura, Ryuji Utomo dan Rezaldi Hehanusa dari Persija Jakarta, dan Ricky Fajrin Saputra dari Bali United.

Berikutnya lini tengah bakal diperkuat oleh Miftahul Hamdi dari Bali United, Evan Dimas Darmono dari Bhayangkara FC, Hanif Abdurrauf Sjahband dari Arema FC, Muhammad Hargianto dari Persija Jakarta, Gian Zola Nasrulloh dan juga Febri Hariyadi dari Persib Bandung, lalu Asnawi Mangkualam Bahar dari PSM Makassar, dan terakhir Saddil Ramdani dari Persela.

Terakhir Marinus Mariyanto Wanewar dari Persipura, Yabes Roni Malaifani dari Bali United, dan Ahmad Nur Hardianto Persela terdaftar sebagai bomber di squad timnas Garuda U-22.

Sedari awal, nama yang sudah dicoret dari squad timnas U-22 untuk terbang ke Bangkok adalah Egi Maulana Vikri.

Kolev Kesal Dengan Wasit G-B-L-K

Kolev Kesal Dengan Wasit G-B-L-K
Kolev Kesal Dengan Wasit G-B-L-K

Rasa dongkol tengah menyelimuti hati pelatih PS TNI, Ivan Kolev. Pasalnya pelatih asal Bulgaria itu menilai, kalau wasit yang memimpin laga lanjutan Liga 1 kemarin (Senin, 3 / 7 / 201) malam WIB itu tidak becus.

Berduel dengan Arema FC di Stadion Pakansari Cibinong Bogor, Kolev mengklaim kalau ada 2 hadiah penalti yang seharusnya diterima oleh timnya. Momen yang paling fatal adalah ketika rekannya melihat, salah satu bek Singo Edan ada yang menyentuh bola dengan tangan di area kotak putih. Namun Ikhsan Prasetya Jati, selaku wasit yang bertugas dilihat Kolev cuma melengos dan tidak mengacuhkan insiden tersebut. Padahal, kejadian tersebut trejadi didepan wasit Ikhsan langsung.

“Tadi bek Arema ada yang menyentuh bola di kotak penalti. Kok malah didiamkan, sih? Bahkan, teman saya yang ikut menonton pun mempertanyakan hal yang sama”, umpat pria 59 tahun itu selepas bertanding.

“Dan itu terjadi 2 kali lho. 2 kali pemain lawan menyentuh bola, tapi wasit diam saja. Ini benar-benar sangat merugikan kami”, sambugnya.

Saat meladeni Arema, PS TNI bisa dibilang tampil ciamik. Banyak peluang yang diciptakan oleh mereka dan berujung pada ancaman ke gawang lawan. Walaupun, Kurnia Mega tampil amat cekatan dalam menjaga gawangnya. Alhasil, serangan-serangan TNI pun masih mental oleh Meiga.

“Seharusnya, kami bisa bikin gol lewat tendangan penalti dan pulang dengan kemenangan”, tuntas mantan gelandang itu.

Pertarungan antara PS TNI dan Arema FC pun ditutup dengan skor imbang kacamata.

Gonzales Ngamuk ke Wasit yang Pimpin Laga Kontra PS TNI

Gonzales Ngamuk ke Wasit yang Pimpin Laga Kontra PS TNI
Gonzales Ngamuk ke Wasit yang Pimpin Laga Kontra PS TNI

Saat melakoni laga lanjutan Liga 1 di Stadion Pakansari Cibinong Bogor kemarin (Senin, 3 / 7 / 2017) petang WIB, emosi Cristiano Gonzales sontak memuncak. Kala Ikhsan Prasetya Jati, selaku wasit yang bertugas, memutuskan untuk membatalkan gol yang dilesakkan Arthur Cunha ke jala PS TNI. Adapun duel tersebut berakhir dengan angka kacamata.

Sementara ulah wasit Ikhsan juga tidak hanya mengesalkan Gonzales, tapi juga Ivan Kolev, pelatih dari PS TNI. Kolev mempertanyakan, kenapa wasit tidak memberikan hadiah tendangan penalti pada saat yang seharusnya.

Menjelang sesi turun minum, Arema FC hampir mendobrak stagnasi. Cunha yang saat itu sedang mendrible bola, mencoba untuk mendekati bibir gawang. Saat bek asal Brazil itu merasa berada di sudut yang pas, ia pun tanpa pikir panjang langsung menyepak bola dengan keras ke gawang PS TNI. Si kulit bundar pun tersarangkan ke dalam jala. Sayang wasit menganulir gol tersebut, lantaran Cunha dinilai menapak posisi offside. Ini tentunya membuat para penggawa Arema naik pitam, khususnya Gonzales.

“Dari tadi offside offside melulu. Jelas-jelas Arthur tidak berada dalam posisi offside, saat mencetak gol”, tutur Gonzales yang penuh emosi saat diwawancara selepas bertanding.

“Wasit yang bertugas tadi, benar-benar tidak becus. Setiap orang wajar membuat kesalahan, tapi kalau kesalahan dibuat sampai 10 kali ya itu keterlaluan. 10 kali kami dibilang masuk offside terus. Tahu arti offside ga sih? Berarti memang dia tidak profesional dan harus dipertanyakan kinerjanya”, imbuh bomber berumur 40 tahun itu dengan ekspresi wajah kesalnya.

Dicibir Fans Jual Pemain Kunci, Pallota Naik Pitam

Dicibir Fans Jual Pemain Kunci, Pallota Naik Pitam
Dicibir Fans Jual Pemain Kunci, Pallota Naik Pitam

Ekspresi kecewa ditunjukkan oleh James Pallotta, selaku Presiden dari klub AS Roma. Pasalnya, fans klub mencibir keputusannya menjual 2 pemain kunci Roma. Sementara bos besar asal Amerika itu marah, lantaran kebijakan yang menjadi bagian dari kerja keras klub tidak direspek.

Sejak dibukanya bursa transfer musim panas 2017, Roma langsung memutuskan untuk melepas Mohamed Salah ke Liverpool dengan harga jual 42,000,000 Euro. Padahal, Salah juga menjadi penyumbang gol terbanyak bagi Roma di sepanjang kompetisi musim kemarin. Yakni, sudah sebanyak 19 gol dilesakkannya ke jala lawan. Tak lama dari dilepasnya Salah ke The Reds, giliran gelandang mereka, Leandro Paredes yang diobral ke Zenit dengan uang tebusan sebesar 27,000,000 Euro. Mirip-mirip seperti Salah, Paredes merupakan pemain kunci Roma di lini tengah. Selama tampil 41 kali dalam semusim, sudah 3 gol berhasil dibidaninya.

Tak heran kalau fans fanatik pun jadi dongkol dengan Pallotta yang membawahi Monchi sebagai Direktur Olahraga AS Roma. Roma dianggap fans menjadi pasar swalayan di bursa transfer, yang dengan mudahnya didatangi klub manapun untuk membeli pemain yang mereka suka. Adapun, kepercayaan mereka terhadap sosoko Pallotta dalam memimpin klub sempat melorot.

Mendengar pernyataan itu, Pallota pun langsung bermuka merah.

“Tidak ada satupun kebijakan klub yang kami buat, bertujuan untuk membuat klub jadi terpuruk. Tidak berarti karena kehilangan pemain bintang, kami tidak memikirkan performa kami di musim depan. Saya harap fans agar lebiih bersabar”, ujar Pallotta saat disambangi Football Italia.

Selepas kehilangan 2 pemain kuncinya, sejatinya Roma pun sudah merekrut 4 penggawa baru untuk memperkuat squad -nya di musim depan. Mereka diantaranya adalah Lorenzo Pellegrini, Hector Moreno, Rick Karsdorp dan juga Maxime Gonalons.

Ternyata Kane Bukan Cuma Ahli Soal Gol, Tapi Juga Soal Percintaan

Ternyata Kane Bukan Cuma Ahli Soal Gol, Tapi Juga Soal Percintaan
Ternyata Kane Bukan Cuma Ahli Soal Gol, Tapi Juga Soal Percintaan

Ternyata sosok Harry Kane bukan cuma ahli soal gol, tapi juga soal bikin aksi romantis di percintaan. Berniat untuk membuat impresi, juru gedor Tottenham Hotspur itu melamar Katie Goodland, kekasihnya saat liburan musim panas.

Bersama The Lily Whites, Kane bisa dibilang menuntaskan musim 2016 / 2017 dengan oke. Pertama, ia berhasil membawa klubnya finish di posisi runner up. Lalu dengan mempersembahkan 29 gol untuk Hotspur, Kane pun sontak dinobatkan sebagai pencetak angka terbanyak Liga Premier musim lalu.

Sebagai bentuk perayaan kesuksesannya di musim lalu, pemain timnas Inggris itu pun mengajak kekasih dan putri tunggalnya yang lahir pada 8 Januari 2017 silam, Ivy Jane Kane ke Nassau, Bahamas. Namun, momen mengejutkan dan romantis terjadi saat Katie tengah berdiri berdua bersama Kane di pinggir pantai pasir putih. Tiba-tiba Kane berlutut didepan Katie dan menyodorkan cincin, untuk melamarnya sebagai tunangan.

Momen romantis dengan kekasih yang sudah dikenalnya sejak usianya masih kanak-kanak itu pun, juga diupload Kane di akun Instagram -nya. Dengan caption, ‘Dia mengatakan, ya!’, foto dirinya tengah berlutut melamar Katie pun sontak tersebar di Internet. Salah satu netizen pun mereply dengan kalimat ‘Semoga kalian menjadi pasangan yang berbahagia selamanya’.

MU Kebanyakan Seri di Kandang

MU Kebanyakan Seri di Kandang
MU Kebanyakan Seri di Kandang

Selama bergulirnya Liga Premier musim 2016 / 2017, MU (Manchester Unites) dinilain publik terlalu banyak bermain imbang di kandang sendiri. Adapun publik dan fans menuntut Setan Merah untuk bisa lebih greget lagi kala menyambut tim lawan di musim depan.

Liga Premier musim lalu dituntaskan MU dengan nangkring di ranking 6, dengan raihan nilai sebanyak 69 poin yang didapat dari 38 kali merumput. Dimana dari 19 duel kandang yang dijabani The Red Devil, 10 pertandingan selalu diakhiri dengan hasil seri. Sementara, total kemenangan laga kandang yang didapat hanyalah sebanyak 8 kali dan sisanya berujung pada kekalahan.

Salah satu legenda MU, Phil Neville pun ikut mengomentari performa klub yang pernah dibelanya dulu itu.

“Kalau saja MU bisa mengalihkan permainan imbang itu menjadi kemenangan, maka gelar juara sudah pasti ada di depan mata”, ceplos Neville saat menghadiri talk show di MUTV.

“Saya harap, itu bisa mereka lakukan di musim yang baru ini”, tandas eks gelandang bertahan itu.

“Dengan begitu, keberhasilan di liga lokal pun dengan sendirinya akan menghantarkan mereka untuk berhasil di Liga Eropa dan Liga Champion”, tuntas pria 40 tahun itu.

RB Leipzig dan Salzburg Diizinkan UEFA, Sama-Sama Main di Liga Champion 2017-2018

RB Leipzig dan Salzburg Diizinkan UEFA, Sama-Sama Main di Liga Champion 2017-2018
RB Leipzig dan Salzburg Diizinkan UEFA, Sama-Sama Main di Liga Champion 2017-2018

Pada akhirnya, baik RB Leipzig dan juga Salzburg bisa menghela napas lega. Kedua klub sepakbola tersebut telah mendapat izin dari UEFA untuk berlaga di Liga Champion musim 2017 – 2018, walau kedua klub tersebut berada dibawah kepemilikan company yang sama.

Kedua tim tersebut sejatinya sama-sama dimiliki oleh produsen minuman energi Red Bull. Sebelum ini, baik RB Leipzig dan juga Salzburg diancam UEFA untuk tidak bisa berlaga di Liga Champion musim depan. Walau laju kedua tim tersebut sangat lah baik untuk mendapatkan tiket ke Eropa. RB Leipzig merupakan juara Bundesliga musim kemarin, sementara Salzburg adalah juara dari Liga Austria. Keduanya secara rekor berhak terbang ke Eropa, lantaran berada di zona Liga Champion.

Tadinya, UEFA sempat khawatir kalau keberadaan 2 tim yang berada dibawah 1 pemilik bakal bertentangan dengan Undang-Undang Liga Champion Article ke-5 yang berkenaan dengan integritas di sebuah kompetisi. Namun usai diteliti lebih dalam, UEFA tidak menemukan adanya pelanggaran. Sontak keduanya pun layak merumput di Liga Champion.

“Kami (UEFA) sudah menyelidiki kedua tim tersebut dengan detail. Mulai dari struktur kepemilikan, finansial, sponsorship, individu pemain, dan lain sebagainya. Sama sekali tidak kami temukan aksi yang bertentangan dengan Undang-Undang Kompetisi kami. Hal ini sudah dikonfirmasikan juga oleh Badan Pengawas Keuangan UEFA / CFBB, bahwa sah-sah saja bagi seorang individu atau sebuah badan hukum untuk memiliki klub lebih dari satu di kompetisi yang digelar UEFA”, terang UEFA pada laman resmi mereka.

Pada Liga Champion musim depan, RB Leipzig sudah pasti masuk ke babak grup. Sedangkan Salzburg, masih harus berkutat di babak 2 kualiifikasi Liga Champion.

VAR Amat Penting Buat Wenger

VAR Amat Penting Buat Wenger
VAR Amat Penting Buat Wenger

Mengingat-ingat pengalamannya di dunia sepakbola, Arsene Wenger menyadari betul kalau peran VAR (Video Assistant Referee) sangatlah penting baginya. salah satu kejadian yang paling tidak bisa ia lupakan adalah saat membawa klubnya ke putaran final Liga Champion 2006.

FIFA resmi menggunakan VAR sejak menggelar Piala Dunia Antar Klub pada tahun 2016, lalu teknologi tersebut terus digunakan hingga digelarnya Piala Konfederasi tahun ini (2017). Mengingat peran VAR sangat membantu meminimalisasikan human error tim offisial dalam menentukan sebuah keputusan, saat menggelar sebuah pertandingan. Hal ini pun juga diakui oleh Gianni Infantino selaku Presiden FIFA.

Kembali ke saat Wenger membawa The Gunners ke babak final melawan Barcelona di Liga Champion, mereka terpaksa harus ikhlas kalah dari Barca 1 – 2. Padahal, Wenger sangat yakin, kalau penyebab kekalahannya itu lantaran kesalahan tim wasit yang bertugas.

“Kalau saja VAR sudah ada pas tahun 2006”, keluh Wenger.

Saat itu, Wenger melihat kalau gol penyeimbang kedudukan 1 – 0 Arsenal yang dicetak oleh Samuel Eto’o lahir dari posisi offside. Selebihnya, pelatih asli Prancis itu juga merasa kalau banyak keputusan wasit yang lebih mengunggulkan The Catalan.

“Kami padahal sudah unggul 1 – 0 hingga 30 menit menjelang berakhirnya babak final saat itu, lalu tiba-tiba Barca dinyatakan berhasil menyamakan kedudukan menjadi 1 – 1. Jelas-jelas saya melihat gol yang dicetak Eto’o adalah hasil dari posisi offside. Kalau ada VAR saat itu, maka tim saya lah yang sudah pasti membawa pulang piala”, sesal pria berumur 67 tahun itu.

Wenger juga menceritakan pengalaman lainnya saat dicurangi di laga, yaitu lagi-lagi saat berhadapan dengan Barca pada Liga Champion 2011. Saat itu, yang dipermasalahkan adalah kartu kuning ke 2 buat Robin van Persie.

Sejatinya tahun 2006 menjadi momen emas Arsenal bersama Wenger untuk bisa menjadi jawara Liga Champion, namun impian meraih titel pada saat itu harus kandas. Musim 2005 / 2006 merupakan satu-satunya momen, dimana Arsenal mampu berlaga di babak final selama melenggang di Liga Champion hingga saat ini.