Dinyatakan Lolos ke Piala Dunia 2018, Timnas Iran Disambut Meriah Warganya

Dinyatakan Lolos ke Piala Dunia 2018, Timnas Iran Disambut Meriah Warganya
Dinyatakan Lolos ke Piala Dunia 2018, Timnas Iran Disambut Meriah Warganya

Keberhasilan timnas Iran menghajar telak timnas Uzbekistan 2 – 0 pada laga lanjutan Kualifikasi Piala Dunia 2018 untuk zona Asia, menjadi karcis masuk mereka untuk berpartisipasi di Rusia. Tidak hanya itu, tim Melli juga menjadi kontingen Asia pertama yang sudah dipastikan berlaga di turnamen Piala Dunia 2018 Rusia.

Saat menyambut tim tamu di Tehran, Sardar Azmoun serta Mehdi Taremi menjadi pahlawan yang berhasil mengoyak jala Uzbekistan. Dengan tambahan 3 poin yang diraih dari kemenangan tersebut, timnas besutan Carlos Queiroz itu juga berhasil mengukuhkan posisi mereka sebagai raja klasemen di Grup A. Dimana, mereka membalap Korea Selatan yang selalu membayangi mereka di ranking 2 dengan saldo 7 poin lebih sedikit. Hebatnya lagi, Iran belum pernah dibobol sama sekali dari 8 kesempatan berlaga yang diikutinya selama fase kualifikasi.

Dengan begitu, Piala Dunia tahun depan yang dilangsungkan di Negeri Tirai Besi menjadi kompetisi Piala Dunia timnas Iran yang kelima kalinya.

Atas apa yang telah dicapai oleh timnasnya, seluruh warga Iran pun menyambut kabar gembira tersebut dengan penuh sukacita.

“Kami bangga dengan kalian (para pemain timnas Iran). Selamat atas keberhasilannya masuk ke Piala Dunia 2018 Rusia. Kami semua tidak akan pernah putus memberikan dukungan”, ujar Hassan Rouhani, Presiden Iran yang dicuitkan melalui akun Twitter pribadinya.

Disisi lain, ribuan pencinta sepakbola di Tehran pun meramaikan suasana gembira dengan turun ke jalanan. Mereka meneriakkan yel yel timnas mereka sambil menari-nari. Sebagian ada pula yang beramai-ramai membunyikan klakson mobil. Semua warga pun pada akhirnya berbondong-bondong menonton aksi sorak sorai itu, layaknya tengah menyaksikan sebuah acara festival karnaval.

Sejatinya, timnas penyabet 3 trofi Piala Asia itu masih menyisakan 2 laga hingga fase kualifikasi Piala Dunia 2018 tuntas. Yakni, laga kontra Korea Selatan dan juga Suriah. Namun apapun hasil dari kedua laga lanjutan tersebut, Iran tetap sudah dinyatakan lolos masuk ke event sepakbola akbar 4 tahunan itu.

“Apapun hasilnya pada 2 laga sisa nanti, tidak akan ada yang berpengaruh pada langkah kami ke Piala Dunia Rusia tahun depan. Kami sudah resmi lolos dengan pencapaian angka kami selama mengarungi babak kualifikasi”, papar kapten tim, Ashkan Dejagah.

Revolusi Piala Dunia Dimulai Tahun 1990

Revolusi Piala Dunia Dimulai Tahun 1990
Revolusi Piala Dunia Dimulai Tahun 1990

Awal terjadinya revolusi Piala Dunia

Piala Dunia tahun 1990 bisa dikatakan sebagai turnamen Piala Dunia yang paling buruk dalam catatan sejarah. Namun begitu, buruknya event 4 tahunan itu justru mendorong sebuah revolusi tersendiri di kancah sepakbola.

Popularitas Piala Dunia memang selalu mencuri perhatian seluruh masyarakat di seluruh dunia. Bahkan event besar seperti Olimpiade yang mengikutsertakan 200 kontingen dari seluruh dunia pun, masih kalah gaungnya dibanding dengan Piala Dunia.

Kendati begitu, Piala Dunia pun wajar seperti hal lainnya. Yakni, punya atau pernah mengalami masa-masa terbaik maupun saat-saat terburuk dalam perjalanannya. Setiap 4 tahun sekali, selalu muncul nama-nama yang dijadikan sebagai idola baru. Disaat yang bersamaan, juga acapkali muncul insiden-insiden yang kurang sedap didengar. Seperti halnya yang terjadi pada babak final Piala Dunia tahun 2006. Kala itu, Zinedine Zidane menanduk Marco Materazzi yang bermuara pada sanksi kartu merah. Aksi pelanggaran yang dilakukan oleh gelandang serang Timnas Ayam Jantan itu pun, sekaligus menjadi sebuah sinyal. Bahwa karir sepakbolanya sedang menuju titik akhir.

Selain insiden yang terjadi pada tahun 2006, ada pula hal yang menjadi drama pada tahun 1990. Dimana Piala Dunia yang digelar di Italia pada tahun 1990 itu, tercatat sebagai ajang Piala Dunia terburuk selama ini.

Pada tahun 1990, rekor gol di sepanjang turnamen Piala Dunia berjalan hanya sebanyak 115 gol saja. Atau bila diambil angka gol per pertandingan, menjadi 2,21 gol per laga saja. Tentu saja, angka ini menjadi catatan angka paling rendah sepanjang sejarah turnamen Piala Dunia. Mempertontonkan laga di putaran grup yang sangat miskin gol dan 2 laga semi final yang selalu berujung pada sesi adu penalti, memberikan indikasi bahwa hampir semua kontingen tampil sangat buruk pada masa itu. Malahan, keparahannya justru semakin terlihat jelas pada putaran final yang mempertemukan timnas Jerman Barat (yang saat ini menjadi Jerman) dengan timnas Argentina.

Cerita dibalik buruknya partai final Piala Dunia 1990

Revolusi Piala Dunia Dimulai Tahun 1990_2
Revolusi Piala Dunia Dimulai Tahun 1990_2

Seperti yang sudah diketahui oleh para pencinta sepakbola di dunia, persaingan panjang antara Jerman dengan Argentina memang sudah terjadi sejak lama. Tak heran kalau partai yang mempertemukan 2 seteru tersebut, tadinya menjadi tontonan yang amat ditunggu-tunggu oleh masyarakat pencinta sepakbola di seluruh dunia. Namun sayangnya, kenyataan harus berkata lain. Duel tersebut berada jauh diluar ekspektasi para penonton sebelumnya.

Laga puncak tersebut, pada akhirnya dimenangkan secara tipis 1 – 0 oleh Jerman. Tadinya, penonton mengharap akan ada hujan gol yang membanjiri laga tersebut. Tapi justru yang ditampilkan malah hujan pelanggaran dan sanksi kartu. Argentina pun benar-benar memperlihatkan penampilan terburuknya kala itu, yakni hanya mampu melesatkan 1 shot yang itu pun tidak dinilai sebagai tembakan tertarget. Sementara lawannya, Jerman melakukan attempt sebanyak 23 kali, dengan 16 shot diantaranya yang on target.

Gol baru pecah, saat laga memasuki menit ke 85. Saat tu, Andreas Brehme berhasil menyarangkan si kulit bundar dari titik putih. Kendati begitu, gol tersebut lahir dari pelanggaran yang dilakukan oleh Roberto Sensini terhadap Rudi Voller.

Pada duel final tersebut, Argentina sampai harus mengorbankan 2 pemainnya. Dalam perjalanan Piala Dunia selama ini, Pedro Monzon menjadi pesepakbola pertama yang ditodong kartu merah di babak final. Selain itu, Argentina juga menjadi negara pertama yang absen bikin gol di fase final Piala Dunia selama ini.

Drama ternyata tidak berakhir sampai laga Jerman vs Argentina mencapai menit puncaknya yang ke 120. Selepas bertanding, Edgardo Codesal, selaku wasit asal Meksiko yang memimpin pertandingan kala itu langsung dihadang para pemain Argentina. Pasalnya, Codesal dianggap membantu Jerman untuk lolos sebagai penyabet trofi. Kemarahan mereka didasari oleh keputusan hadiah penalti yang diberikan untuk Jerman, pada menit ke 85. Ditengah amukan para pemain Argentina, toh wasit tetap kekeh untuk mengaminkan Jerman menjadi juara dunia yang ke-3 kalinya.

Franz Beckenbauer sontak menjadi satu-satunya tokoh yang dulunya sukses menjuarai Piala Dunia saat masih menjadi pemain timnas Jerman, dan sukses membawa timnya menjadi juara saat menjabat sebagai pelatih Timnas Panser.

Usai membawa timnya menggasak piala, Beckenbauer mengatakan bahwa Argentina tidak perlu marah atas kekalahan tersebut. Hal itu justru disebabkan oleh cara bermain mereka yang negatif dan kasar.

“Karena tidak mampu menyamakan dominasi kami sejak awal, cara bermain mereka (Argentina) mendadak jadi kasar sepanjang pertandingan. Untungnya kami tidak termakan emosi dan tetap bermain dengan sabar. Toh, akhirnya kesabaran tersebut membuahkan angka yang berujung pada kemenangan kami”, papar Beckenbauer saat disambangi oleh New York Times.

Hujan pelanggaran yang terjadi pada laga Jerman vs Argentina mengusik FIFA untuk meningkatkan kualitas pertandingan sepakbola

Menyaksikan polemik diving yang terjadi pada partai final Piala Dunia tahun 1990, mendorong FIFA untuk berbenah. Organisasi tertinggi sepakbola dunia tersebut memutuskan untuk meningkatkan standar pertandingan sepakbola, supaya menjadi lebih baik kedepannya. Salah satu kebijakan yang dikeluarkan adalah merubah poin kemenangan yang sebelumnya 2 poin menjadi 3 poin. Dasar perubahan ini dimaksud FIFA untuk meningkatkan motivasi tim yang bertanding untuk mengantongi ‘full poin’.

Selain soal poin, FIFA juga mengadakan peraturan ‘backpass’. Ini dimaksudkan untuk mencegah akal-akalan mengulur waktu selama bertanding. Sebelum peraturan ini diberlakukan, memang banyak tim peserta yang sengaja mengulur waktu dengan berlama-lama menguasai bola. Termasuk mengembalikan bola ke kiper dengan frekuensi yang relatif sering. Hal ‘stalling’ tersebut dilakukan mereka, lantaran mengalami kesulitan untuk merangsek ke sistem pertahanan lawan.

Dengan cara bermain seperti itu, tentu saja pertandingan sepakbola akan menjadi tontonan yang sangat membosankan dan mengecewakan. Sehingga tidak pantas dipertontonkan di ajang sepakbola paling akbar seperti Piala Dunia.

Cara kerja peraturan ‘backpass’ sendiri adalah melarang seorang pemain yang dengan sengaja mengembalikan bola ke kiper setelah melakukan tendangan gawang, untuk ditangkap lagi dengan tangan. Hal ini juga berlaku apabila pemain mendapat jatah lemparan kedalam dan tendangan bebas. Kiper setim dilarang menerimanya dengan menggunakan tangan.

Taktik kotor lainnya yang acapkali dilakukan oleh pemain adalah berpura-pura jatuh atau yang lebih populer dengan nama ‘diving’. Dimana cara bermain negatif ini paling banyak ditemukan pada saat Piala Dunia digelar tahun 1990. Kendati Jerman yang saat itu berhasil keluar sebagi juara, mereka dinilai sebagai tim yang paling sering menggunakan taktik ini. Taktik ini pula lah yang disinyalir berhasil mengusir keluar Pedro Monzon pada partai final. Sekaligus, membuahkan kado tendangan penalti yang menjadi penentu kemenangan Jerman kala itu.

Sesuai yang dimuat di Guardian, Klinsmann pada saat itu dengan sengaja melompat seperti atlit renang yang hendak menceburkan diri pertama kalinya ke kolam. Setelah itu, aksi pura-pura jatuh tadi dituntaskan dengan aksi pura-pura sakit. Padahal jegalan Monzon saat itu pun diragukan benar-benar menyentuh Klinsmann. Toh, taktik itu terbilang berhasil dan menyebabkan Monzon langsung dikartu merah oleh wasit.

Sampai saat ini, diperlukan kejelian wasit dalam memantau taktik ‘diving’. Lantaran, ini adalah taktik kotor yang paling sulit terlihat untuk mengakali kado tendangan bebas, tendangan penalti, sampai dengan sanksi kartu yang ditujukan kepada pemain lawan. Parahnya, banyak pula pelatih yang dengan sengaja melatih anak didiknya untuk melakukan ‘diving’ agar terlihat lebih riil dan tidak terkesan pura-pura oleh wasit.

Memang trik-trik kotor akan terus menjadi bayangan dari sportifitas permainan sepakbola. Misalkan saja, kiper yang dengan sengaja menendang kaki pemain lawan yang berada didekat mulut gawang, lalu melompat agar tidak terlihat telah menciderai pemain lawan. Ada pula yang sengaja mengganti pemain yang punya tenaga lebih fresh, pada menit-menit akhir pertandingan, dan lain sebagainya.

Walaupun demikian, Piala Dunia 1990 mengajarkan kita semua bahwa ujung dari sebuah pertandingan adalah siapa yang harus menang dan siapa yang harus kalah. Hanya saja, pada saat itu para pemain kebablasan mengaplikasikan trik-trik kotor mereka.

Hal terbaik yang bisa dilakukan oleh FIFA untuk memberikan solusi untuk hal ini adalah menentukan besar hukuman yang harus dijatuhkan kepada pemain yang dengan sengaja melakukan trik kotor. Seperti halnya, saat Luis Suarez mencokot Giorgio Chiellini pada ajang Piala Dunia 2014 lalu. Dimana pada akhirnya Suarez diskors dari pertandingan Piala Dunia untuk selama beberapa pertandingan.

Apapun itu, sepakbola telah membuktikan bahwa olahraga tersebut bukanlah sekedar permainan. Para pemain akan mempertaruhkan apa saja dengan segeap jiwa dan raga untuk menjadi pemenang, seperti layaknya pejuang yang hendak berangkat ke medan perang.